7 Comments

Benturan Kepala Pada Bayi

Image

Kejadian bayi jatuh dari tidur cukup sering terjadi dialami ketika anak menginjak usia 6 bulan hingga 1 tahun. Orang tua sering cemas bila hal itu terjadi pada buah hatinya. Bayi yang jatuh dari tempat tidur biasanya berjarak sekitar 50 cm dari ujung tempat tidur ke lantai. Meskipun kepalanya terbentur, selama di dasar lantai tidak ada benda berujung tajam biasanya tidak berakibat buruk. Karena tulang kepala bayi masih cukup elastis, ubun-ubun belum menutup hingga perubahan tekanan tidak memberikan benturan yang keras pada otak.Biasanya segala bayangan seram tentang dampak cacat akan segera menghantui. Hal itu sebetulnya tak perlu terjadi kalau kita bisa mengenali gejala gawat tidaknya cedera yang diakibatkan. Nah, apa saja yang harus dicermati, dr. Irawan Mangunatmadja, SpA dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta akan menjelaskannya berikut ini. Diharapkan, dengan langkah pencegahan yang disarankan, peristiwa bayi jatuh tak sampai terjadi.

Pengaruh Posisi Benturan Kepala Bayi Selain dari ada tidaknya benjolan, posisi benturan di kepala juga menentukan ringan dan beratnya cedera. Inilah keterangannya:

1. Benturan di bagian samping kepala, apakah kanan atau kiri, bisa berdampak sangat serius. Di bagian yang disebut daerah epidural ini terdapat pembuluh darah arteri yang menempel di tulang kepala. Kalau sampai terjadi retak/fraktur di daerah tersebut, maka pembuluh darah itu ikut robek. Akibatnya, terjadi perdarahan epidural yang biasanya sulit dihentikan karena robekan terjadi di pembuluh darah besar. Benturan yang cukup kuat di daerah temporal atau di samping dekat telinga, bisa menimbulkan gejala epilepsi/ayan.

2. Benturan di bagian belakang kepala perlu diwaspadai. Di daerah ini tersimpan fungsi-fungsi vital otak, seperti pusat penglihatan. Perhatikan apakah terjadi perubahan pada fungsi mata bayi. Seharusnya, saat melihat suatu objek, bola mata bayi terlihat fokus. Jika terjadi gangguan, bisa secara tiba-tiba bola matanya bergerak ke mana-mana atau arahnya tidak fokus. Tanda lainnya, ia tidak lagi tertawa atau tersenyum ketika melihat orang-orang dekatnya. Ini berarti pusat penglihatannya terganggu atau bahkan dia tidak bisa melihat.

3. Benturan di bagian belakang kepala agak ke sebelah bawah dapat menyebabkan cedera pada otak kecil yang merupakan pusat keseimbangan. Akibatnya timbul gangguan gerak yang meliputi kemampuan motorik kasar dan halus. Misalnya saja, tangan bayi gemetaran saat memegangsesuatu.

4. Benturan keras di kepala bagian bawah sekali atau tengkuk akan menyebabkan kesadaran bayi menurun. Di daerah ini terdapat batang otak yang kalau cedera dpt memicu gangguan pernapasan dan bahkan kematian. Jika sampai terjadi retakan tulang di bagian itu, maka patahan Tulangnya dapat menembus jaringan otak & melukai susunan saraf pusat. Cedera seperti ini termasuk kategori berat. Selain itu, bisa timbul perdarahan dari hidung atau keluar cairan dari telinga. Mengatasinya harus dengan tindakan operasi. Jika tidak, perdarahan akan terus menekan jaringan otak yang pada tahap ekstrem bisa mengakibatkan kecacatan dan kematian.

Perhatikan Benjolan Setelah terbentur, perhatikan apakah ada benjolan atau tidak. Raba kepala bayi untuk memastikannya. Kalau ada, berarti jatuhnya cukup keras. Benjolan yang muncul biasanya berwarna kebiruan. Itu mengindikasikan adanya perdarahan di bawah kulit. Untuk mengatasinya, berikan kompres air dingin agar perdarahannya terhenti. Selama kesadaran bayi masih bagus, tak ada gangguan saraf seperti bola mata jadi miring, tidak muntah, tidak tidur terus, dan tidak ada kejang, maka cederanya bisa dianggap ringan.

Perlu diketahui, walaupun benturannya keras, benjolan belum tentu muncul saat itu juga. Bisa saja baru keesokan harinya, karena perdarahan yang terjadi mungkin sedikit jumlahnya, atau benjolan itu tak begitu terasa dan terlihat karena tertutup rambut. Jadi kalau setelah jatuh tak segera muncul benjolan, belum tentu benturannya ringan. Benjolan dapat muncul kapan saja dalam 48 jam pertama.

Bila cederanya ringan, benjolan makin lama akan mengecil dengan sendirinya, sebab setiap perdarahan akan diserap oleh tubuh. Kalau benjolannya makin lama makin besar maka orang tua perlu mencurigainya. Bisa saja perdarahan itu tak diserap tubuh tapi malah membentuk semacam selaput di otak. Lama kelamaan selaput ini dapat menekan jaringan otak dan menghambat perkembangannya. Perlu dilakukan tindakan operasi untuk mengeluarkan bekuan darah dan selaput tersebut.

Ada atau tidak ada benjolan, bayi yang jatuh harus terus diamati selama 2×24 jam dan diobservasi setiap 2 jam untuk menentukan berat ringannya cedera akibat jatuh. Bila dalam kurun waktu itu suhu badannya meningkat, muntah, atau bahkan kejang, bawalah segera ke dokter. Ini berarti ada luka dalam yang lebih serius.

GEGAR OTAK

Bila dilihat dari jenis cederanya, trauma kepala dibagi menjadi tiga golongan. Yaitu trauma kepala ringan, sedang, dan berat. “Dianggap ringan bila keadaan anak secara keseluruhan baik. Dalam arti, tidak ada luka, muntah dan kejang.”
Saat terbentur, anak memang akan menangis. “Bisa juga timbul luka atau benjolan. Tapi selama kesadarannya bagus, tidak ada tanda-tanda penyakit atau gejala syaraf, seperti matanya miring, muntah, dan kejang, maka itu dapat dianggap benturan ringan saja,” jelas Dr. Dwi P. Widodo, Sp.A(K), MMed, dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, sub bagian Neurologi Anak.

Kendati ringan, orang tua tetap harus memantau perubahan si anak. Karena mungkin saja gejala yang dimunculkan datangnya lambat. Misalnya masa krisis baru timbul dalam waktu 24-48 jam. Contohnya pada kasus retak kepala. Mungkin pada awalnya tidak ada benjolan dan kondisi anak pun baik-baik saja. Tapi dua hari kemudian anak kejang-kejang. “Nah, itulah yang disebut efek yang lambat timbulnya. Biasanya ringan dan merupakan gangguan karena benturan atau goncangan saja serta akibat perbedaan tekanan.” Karena itu anak yang terjatuh, kendati ringan, perlu diobservasi setiap dua jam.

Sedangkan trauma kepala kategori sedang biasanya disebut gegar otak. “Gegar otak terjadi bila ada benturan disertai kehilangan atau penurunan kesadaran untuk beberapa waktu, disertai lupa mengenai kejadian tersebut,” jelas Dwi. Karena kesadarannya sempat turun, anak tak bisa menceritakan kejadian tersebut. Keadaan seperti ini timbul karena adanya gangguan fungsi sel syaraf otak, tapi tanpa disertai kerusakan sel syarafnya.
Kadang, ungkap Dwi lebih lanjut, gegar otak terjadi dengan luka terbuka dan luka tertutup.

Jadi, jangan cepat mengartikan bila tidak luka maka tidak ada perdarahan di otak. Mungkin saja perdarahan yang terjadi pada gegar otak itu tidak diketahui atau tertutup. Perdarahan baru bisa dilihat melalui foto rongent atau CT Scan. Menurut Dwi, kita tak perlu cemas jika perdarahan terjadi di bawah kulit kepala. “Tapi jika perdarahan terjadi di dalam otak atau selaput otak, perlu tindakan operasi.”

Sementara itu, pada kasus trauma kepala berat, umumnya anak tidak sadar dalam waktu yang lama. “Kira-kira 5-10 menit. Kemudian ditemui ada luka atau memar, kejang-kejang, dan muntah-muntah,” ujar Dwi. Pada trauma berat, perdarahan yang terjadi bukan hanya di kulit saja, tapi sudah sampai ke dalam otak atau di tulang tengkoraknya. Dianggap berat bila kemudian muncul kejang atau bahkan kelumpuhan.

Jadi, bagaimana menentukan berat-ringannya trauma kepala? Indikatornya antara lain dari kesadarannya, ada lumpuh atau tidak, ada gangguan bola mata atau tidak, dan lain-lain. Kalau matanya miring sebelah berarti ada sesuatu di kepalanya. “Yang dicurigai adalah terjadinya perdarahan, sebab di dalam otak terdapat serabut syaraf mata. Kelainan pada mata bisa terjadi karena tekanan dari darah dan bukan kerusakan dari syaraf matanya. Bila perdarahannya dihilangkan maka bisa diperbaiki atau normal.”

PERUBAHAN TINGKAH LAKU

Bila yang terjadi trauma ringan, mungkin tidak akan terjadi gangguan pada kecerdasan maupun sistem sarafnya. Misalnya, anak tak mengalami gangguan saat belajar, tingkah lakunya normal saja, dan seterusnya. Adakalanya muncul gangguan sesaat, namun setelah itu pulih kembali.

Yang jelas, setelah mengalami trauma, akan timbul sindrom pasca trauma. Bentuk yang paling sering muncul adalah keluhan sakit kepala, dalam waktu 1-2 minggu. “Biasanya berulang dan menghilang dengan sendirinya.” Selain itu, ada juga gangguan tingkah laku seperti anak jadi agresif, maunya tidur saja, gangguan memori, dan sebagainya. Semua ini merupakan komplikasi.

Pada kasus gegar otak ringan pun, prognosisnya bisa bagus. Sedangkan gegar otak berat, yang patut diwaspadai adalah terjadinya perdarahan atau terdapat tulang kepala yang patah. Misalnya saja, bagian dari tulang yang patah itu menusuk otak. Perdarahan dapat terjadi di selaput otak atau di dalam otak. Operasi biasanya menjadi satu pilihan dan bergantung pada seberapa berat kerusakan otak.

Gejala sisa dari trauma sedang dan berat biasanya berupa gangguan perkembangan, seperti motorik kasar (duduk, berdiri, berjalan), motorik halus (pegang benda kecil-kecil), perkembangan kecerdasan, bicara dan bahasa, perkembangan sosial dan emosi. “Derajat gangguan perkembangan ditentukan oleh sejauh mana dan di bagian mana kerusakan terjadi,” jelas Dwi.

Perlu pula diketahui salah satu komplikasi trauma kepala cenderung menimbulkan komplikasi epilepsi/ayan. Umumnya komplikasi itu timbul bila benturan terjadi di daerah temporal atau samping dekat telinga.

Sebuah penelitian menunjukkan trauma di kepala – biasanya karena pernah terbentur – memengaruhi susunan saraf dalam kepala. Hal ini bisa menyebabkan gangguan otak, orang yang awalnya baik bahkan bisa menjadi orang jahat.

Penelitian ini dilakukan di University of Exeter, yang sekaligus menguatkan penelitian lainnya oleh Children’s Commissioner for England. Dua hasil penelitian tadi menyingkap, cedera yang terjadi selama proses pematangan otak bisa memicu konsekuensi sosial.

Prof Huw Williams dari University of Exeter menyebut trauma akibat cedera otak sebagai epidemi yang tersembunyi. Pemicunya banyak sekali meski sering terabaikan dan dianggap tidak serius, mulai dari jatuh saat olahraga hingga perkelahian maupun kecelakaan lalu lintas.

Kenyataannya, hal itu berhubungan erat dengan perilaku kriminal yang muncul ketika anak-anak tersebut tumbuh dewasa. Dari 200 narapidana di Inggris yang disurvei, sebagian besar atau tepatnya 60 persen punya riwayat cedera di kepala sewaktu muda.

RETAK ATAU PATAH

Perlu diketahui, pada bagian kepala belakang terdapat daerah otak kecil untuk keseimbangan, daerah mata dan daerah yang disebut batang otak. Semua daerah ini mempunyai fungsi-fungsi vital. Ada fungsi pernafasan, fungsi kesadaran, dan fungsi jantung atau kardiovaskuler. Jadi, jelaslah benturan itu bisa menimbulkan akibat banyak hal, tergantung pada bagian sisi mana benturan terjadi.

Biasanya yang paling ditakutkan bila terjadi fraktur (retak atau patah) tulang tengkorak di daerah belakang kepala. Soalnya, seperti kata Dwi, bagian dari tulang yang patah itu bisa melukai susunan syaraf pusat. Jika hal ini terjadi dan termasuk kategori berat, maka biasanya timbul perdarahan dari hidung atau keluar cairan dari telinga.

Bila hal itu terjadi, terutama jika timbul fraktur di daerah leher atau kepala, korban harus segera dilarikan ke rumah sakit agar mendapat penanganan khusus. “Orang tua dalam hal ini juga tak bisa berbuat banyak, kok. Seandainya dilakukan tindakan sendiri, malah bisa memperberat keadaan korban,” kata Dwi.
Sedangkan pada bayi atau anak kecil, yang kerap dijumpai adalah fraktur diastatik. “Di bagian kepala bayi terdapat ubun-ubun besar, ubun-ubun kecil, dan bagian depan. Nah, di antara ubun-ubun tersebut dengan otak terdapat tulang-tulang. Pemisah antar tulang tengkorak (sutura) itu masih terbuka.”

Pada saat bayi, pembatas tersebut belum menyatu dan bisa terpisah. “Nah, bila tulang mudanya ini terkena benturan, bisa lepas atau bergeser. Kalau ini terjadi, tidak perlu tindakan apa-apa. Lebih baik didiamkan saja, karena nanti akan menyatu lagi mengingat anak masih dalam perkembangan. Biasanya ubun-ubun besar menutup paling telat umur 18-24 bulan.”

Cedera Lahir Yang Umum Atau Penting Pada Bayi Baru Lahir (BBL)
No.
Lesi  
                              
Lokasi anatomik
Komentar
Deskripsi klinis dan penatalaksanaan
1.     Cedera pada kepala
Kaput succedaneum
Edema jaringan lunak pada bagian presentasi
Umum dan jinak
Edeman memar pada kulit kepala. Tidak memerlukan terapi; sembuh dalam beberapa hari.
Prognosis: baik
Chignon
Melintasi garis sutura
Disekitar lokasi ekstraksi vakum
Tidak umum dijumpai sejak digunakannya mangkuk vakum yang lunak dan fleksibel
Edema, kadang-kadang memar, terjadi kerusakan kulit
Sembuh dalam beberapa hari
Sefalhematoma
Subperiosteal
Biasanya parietal
Tidak melintasi garis sutura
Dapat bilateral
Relative umum dijumpai berkaitan dengan persalinan yang lama atau menggunakan alat
Hematoma maksimal pada hari ke 2
Dapat menyebabkan fraktur tengkorak
Dapat mengalami kalsifikasi
Mengeksaserbasi ikterus
Sembuh dalam beberapa hari sampai berbulan-bulan
Perdarahan subgaleal (subaponeurotik)
Diantara galea aponeurosis dan periosteum
Jarang
Factor resiko :
ü  Prematuritas
ü  Ekstraksi vakum
ü  Mungkin memiliki koagulopati yang mendasari
Penampilan basah dan edema pitting pada kulit kepala
Pergeseran telinga ke anterior
Pengenalan dini sangat krusial karena dapat berkembang dengan cepat menjadi syok hipovolemik
Transfusi darah, plasma beku segar, dan factor koagulasi
Fraktur tengkorak
Biasanyan pada tulang parietal; oksipital pada persalinan sungsang
Tidak umum dijumpai
Biasanya pada persalinan dengan forceps, namun juga pada persalinan normal
Edema jaringan lunak dan sefalhematoma
Fraktur dapat linear atau tertekan
Fraktur tertekan mungkin membutuhkan pembedahan di kemudian hari
Prognosis: baik
2.     Cedera minor
Tanda Forseps
Akibat tekanan forceps, khususnya forceps rotasional
Tidak umum dijumpai karena forceps rotasional kini jarang digunakan
Memar atau dan abrasi kulit
Sembuh dengan cepat
Laserasi scalpel
Kepala dan wajah
Insisi scalpel pada seksio sesarea
Biasanya kecil
Bergantung pada lokasi dan ukuran
Mungkin membutuhkan perekat untuk merapatkan tepi luka, penjahitan luka merujuk ke bedah plastic
3.     Cedera pada kepala
Palsi fasial
Biasanya unilateral (sisi kanan pada gambar), jika bilateral, curigai penyebab congenital
Tekanan pada spina iskiadika maternal atau persalinan forceps
Kelemahan fasial unilateral saat menangis mata tetap terbuka
Sembuh dalam 1-2 minggu
Jika mata terbuka secara permanen, gunakan tetes mata metilselulosa
Wajah menangis asimetris
Lebih umum dibandingkan palsi fasial
Berlawanan dengan palsi fasial, mata dapat menutup
4.     Cedera pada leher dan bahu
Fraktur pada klavikula
Area Midklavikula
Distosia bahu, sungsang, dapat terdengar bunyi patahan selama persalinan
Edema, memar, krepitasi pada lokasi; menurunnya pergerakan aktif pada lengan
Penonjolan klavikula akibat pembentukan kalus selama fase penyembuhan
Dikonfirmasi dengan rontgen
Sembuh spontan
Palsi brakial
Erb (>90%)
Syaraf yang terlibat :
C5, C6, +C7
Distosia bahu, presentasi abnormal, persalinan terhambat, makrosomia, Palsi syaraf frenikus-jarang, diafragma terangkat
Berkurangnya abduksi bahu dan rotasi eksternal, supinasi pergerakan tangan dan ekstensi jari (postur “waiter’s tip”)
Pergerakan tangan masih baik
Pada 5% palsi diafragma 90% sembuh dalam 4bulan
Untuk menghindari kontraktur, lakukan pergerakan pasif + spint
Rujukan ke dokter bedah jika tidak membaik dalam 6 minggu
Klumpke (<1%)
Syaraf yang terlibat :
C8, T1
Jarang
Deformitas tangan seperti capit akibat kelemahan otot tangan dan fleksor pergelangan tangan
Syndrome horner pada 30% (trias yang terdiri dari pupil terdilatasi, ptotis <kelopak  mata yang jatuh>, tidak berkeringat)
5.     Cedera lainnya
Ekstremitas
Fraktur humerus/femur (tulang panjang)
Sungsang, distosia bahu, mungkin memilliki kelainan tulang otot yang mendasari
Deformis, berkurangnya pergerakan anggota gerak, nyeri pada pergerakan
Rujuk ke ortopedi
Bidai untuk mengurangi nyeri, kadang-kadang hipovolemia akibat perdarahan memerlukan penanganan segera
Tulang dengan cepat mengalami remodeling
Medulla spinalis
Tulang belakang, servikal, trokal, lumbal
Jarang, persalinan dengan alat, dapat terjadi prenatal
Hilangnya pergerakan dibawah level lesi
Tidak adanya usaha bernafas pada lesi yang tinggi
Perawatan suportif, steroid untuk syok spinal
Organ intra-abdominal
Rubtur hati dan limpa, cedera ginjal, perdarahan adrenal
Makrosomia, sungsang, distosia
Hidronefrosis yang sudah ada sebelumnya
Prematuritas, neuroblastoma
Abdomen-distensi, massa, diskolorasi, nyeri, syok, pucat
Hematuria
Genetalia
Skrotum dan labia mayor
Sungsang
Memar, hematoma
Sembuh sendiri

[Dari berbagai sumber]

About dedimisbahatori

LEMURIAN 3rd Generation

7 comments on “Benturan Kepala Pada Bayi

  1. Sebelumnya sy mau komentar
    Bahasan ibu diawal mbuat sy tenang,Begitu ditengah kebawah sy malah jd panik.

    Anak sy 9bulan. Jatuh dr ketinggian -+50cm, setelah terjatuh sy kasih asi dan dy tertidur. Tapi matanya yg sebelah kiri seperti terbuka. Kemudian sy bangunkan tapi dy tdk terbangun.

    Bagaimana menurut ibu?

  2. Keponakan saya seminggu yang lalu jatuh dan kepalanya terbentur lantai, lalu setelah 1-2 hari terlihat benjolan yang lunak kalo di pegang. dia tidak merasa sakit karena benjolan itu, tapi benjolanya sudah seminggu ini belum jg sembuh, malah terlihat semakin besar dan tidak pada area benturan saja tapi dari atas dahi hingga ke belakang telinga. itu menghawatirkan atau tidak ya..? dan bagaimana cara mengobatinya.. ? terimakasih sebelumnya..!

  3. Anak sy usianya 9 bulan 3 mgu, kmrn malam jatuh dr t4 tdr ketinggian – lbh 50cm, jatuh pada bagian kepala belakang agak kebawah sedikit, setelah jatuh smlm dan tadi pagi sambil nangis n muntah yg pertama, kemudian subuh td muntah lg yg kedua, kebetulan jg ada demam krn sdg radang tenggorokan jd leukositx jg tgi 15.300, apakah ini termasuk bbrp hal yg perlu d waspadai ?? Tolg d bls. Tq

  4. Bayi yang jatuh harus terus diamati selama 2×24 jam dan diobservasi setiap 2 jam untuk menentukan berat ringannya cedera akibat jatuh. Bila dalam kurun waktu itu suhu badannya meningkat, muntah, atau bahkan kejang, bawalah segera ke dokter. Ini berarti ada luka dalam yang lebih serius.

  5. anak saya usianya 1 tahun 6 bulan, kemarin sore terjatuh karena lantai licin dan kepala bagian bawahnya terbentur. kemudian timbul benjolan dan pada malam harinya dia mengalami demam hingga 39 derajat.apakah saya harus membawanya ke dokter…???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: